contoh laporan
Tugas Bahasa Indonesia
(Mengobservasi Laporan)
Kelompok :
Ø Aji Febrianto (04)
Ø Anggia Sepsian P (06)
Ø Rani Novi A (25)
Ø Roihatul Jannah (30)
Ø Taza Hanum P (33)
SMK N 8
Semarang
Tahun
Ajaran 2013/2014
Global
Warming
(Pemanasan
Global)
Fungsi dari laporan ini adalah untuk tugas Bahasa Indonesia.Selain untuk
tugas Bahasa Indonesia, laporan ini juga menyadarkan semua masyarakat untuk
lebih selalu menjaga kelestarian bumi dari pemanasan global.
SMK N 8 Semarang
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT.Karena
dengan rahmat dan karunia-Nyalah sehingga penyusunan laporan ini telah dapat di
selesaikan.
Laporan ini merupakan salah satu tugas
untuk menyelesaikan di mata pelajaran B.Indonesia di SMKN 8 Semarang.
Selesainya laporan ini berkat bantuan dari
berbagai pihak oleh karena itu,pada kesempatan ini kelompok kami sampaikan
terimakasih yang setinggi tingginya kepada yang terhormat:
·
Bapak
Drs. H.Bambang Tjiptadi selaku kepala sekolah SMKN 8 Semarang yang telah
memberikan kemudahan-kemudahan baik berupa moril maupun materil selama
mengikuti pendidikan di SMKN 8 Semarang.
·
Ibu Iva Merliana selaku wali kelas X MM 2
SMKN 8 Semarang.
·
Ibu Diana Kurniasari selaku guru mata
pelajaran yang telah meluangkan waktu,tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan
bimbingan,pengarahan,dorongan,dalam rangka penyelesaian penyusunan laporan ini.
·
Rekan-rekan semua di kelas X MM2 SMKN 8
Semarang.
·
Secara khusus kelompok kami menyampaikan
terimakasih kepada keluarga tercinta yang memberikan dorongan dan bantuan serta
pengertian yang besar kepada kelompok kami,baik selam mengikuti pembelajaran
maupun dalam menyelesaikan laporan ini.
Serta kerabat-kerabat dan rekan-rekan
seperjuangan yang kami banggakan.Semoga Allah SWT memberikan balasan kebaikan
yang telah diberikan kepada kami.Kami menyadari laporan ini masih jauh dari
sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat
diharapkan oleh kami.Akhirnya kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang berkompeten.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.......................... i
Bab I
Pendahuluan...................... ii
·
Latar Belakang................... 1.
·
Rumusan Masalah................ 2.
·
Tujuan............................. 3.
·
Sistematika........................ 4.
Bab II Pembahasan......................
iii
Bab III Simpulan dan
Saran............. iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pemanasan global adalah naiknya suhu permukaan bumi
sebagai akibat naiknya intensitas Efek Rumah Kaca(ERK). Akibat adanya ERK
tersebut, suhu di permukaan bumi naik. Pengaruhnya, suhu bumi menjadi
nyaman bagi kehidupan manusia. Maka, seandainya tidak ada ERK, suhu rata
– rata bumi akan – 18⁰C. Suhu itu terlalu dingin bagi kehidupan manusia. Dengan adanya
ERK, suhu rata – rata bumi menjadi 34⁰C lebih tinggi, yaitu menjadi 15⁰C. Jadi, ERK
membuat suhu bumi sesuai dengan kehidupan manusia.
Namun, dengan adanya revolusi industry di negara – negara maju pada
pertengahan tahun 1880-an, telah meningkatkan penggunaan sumber energy berasal
dari bahan bakar fosil (BBF), seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam,
sehingga menghasilkan berbagai emisi ke udara. Maka terjadi peningkatan
emisi GRK dari karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O) yang tajam. Akibatnya, atmosfer bumi
diselimuti gas rumah kaca tersebut, terjadilah efek rumah kaca. Yaitu
sebagian inframerah terserap oleh atmosfer, menyebabkan sinar infra merah
tersebut tidak terlepas ke angkasa luar. Panas tersebut terperangkap di
dalam lapisan troposfer dan suhu permukaan bumi naik.
Dalam kurun waktu 100 tahun belakangan, kini akibat
ERK telah terjadi kenaikan suhu bumi rata-rata 0,50⁰ C lebih panas
dari zaman pra-industri. Dalam jangka panjang suhu bumi itu akan cenderung
semakin panas dari suhu yang seharusnya kita rasakan, jika kita tidak berusaha
menurunkan dan menstabilkan konsentrasi GRK. Sehingga
menurut ramalan para ahli, pada tahun 2030 suhu bumi naik dengan 3⁰C. Kenaikan suhu
itu nampaknya tidak banyak, tetapi kenaikan suhu tersebut apabila dilihat dari
sejarah bumi, kenaikan suhu dalam pemanasan global sangatlah cepat. Karena
perubahan suhu dalam zaman daur es dan zaman anta res terjadi dalam ribuan
tahun. Kini, kenaikan suhu itu dalam kurun waktu ratusan tahun menjadi
dua kali kadar dalam masa pra-industri dengan ribuan tahun.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka untuk
mencegah dan mengendalikan dampak pemanasan global, penulis menyusun makalah
ini sebagai bahan acuan dalam menyelesaikan isu global yang terjadi ini.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang muncul berkaitan dengan fenomena pemanasan global
dirumuskan sebagai berikut :
1.2.1
Apakah yang dimaksud dengan pemanasan global?
1.2.2
Mengapa dapat terjadi pemanasan global?
1.2.3
Apa saja gejala – gejala adanya pemanasan global?
1.2.4
Bagaimana cara mengukur pemanasan global?
1.2.5
Apa saja dampak yang ditimbulkan akibat pemanasan
global?
1.2.6
Bagaimana cara pengendalian pemanasan global?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1.3.1
Ingin mengetahui pengertian dan penyebab terjadinya
pemanasan global.
1.3.2
Ingin mengetahui gejala – gejala terjadinya pemanasan
global.
1.3.3
Ingin mengetahui cara mengukur pemanasan global.
1.3.4
Ingin mengetahui dampak – dampak akibat pemanasan
global.
1.3.5
Ingin mengetahui cara – cara pengendalian pemanasan
global.
1.4 Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat, di antaranya :
1.4.1
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai
fenomena pemanasan global.
1.4.2
Dapat mencegah terjadinya pemanasan global dengan
melakukan cara – cara pengendaliannya.
1.4.3
Dapat mengukur pemanasan global yang terjadi di muka
bumi.
1.5 Metode Penelitian
Metode
penelitian kami yaitu melakukan peninjauan pustaka dari literature – literature
yang ada, seperti internet dan buku.
1.6 Sistematika Penulisan
1.6.1
BAB I PENDAHULUAN, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Metode Penelitian,Sistematika Penulisan.
1.6.2
BAB II PEMBAHASAN, Pengertian Pemanasan Global, Penyebab
Pemanasan Global, Gejala Pemanasan Global, Mengukur Pemanasan Global, Dampak Pemanasan Global, Perdebatan tentang Pemanasan
Global, Pengendalian Pemanasan Global.
1.6.3
BAB III PENUTUP, Kesimpulan, Saran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pemanasan Global
Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Pemanasan global (global warming) pada
dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena
terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh
meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4),
dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam
atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global –
termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad
21.
2.2 Penyebab Pemanasan Global
2.2.1
Efek Rumah Kaca
Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal
dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang
pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah
dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan
menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas
ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian
panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi
perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali
radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan
tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga
mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus
meningkat.
Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan
semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas
yang terperangkap di bawahnya.
Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala
makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat
dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya
telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya
semula, jika
tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi
seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah
berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
2.2.2
Efek Umpan Balik
Penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh
berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada
penguapan air. Pada kasus
pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2,
pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke
atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus
berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu
kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih
besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan
balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena
udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara
perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.
Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan
memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang
berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan
dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik
daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila
dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi
Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es
yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2
dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap
pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang
juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan
berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat
nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan
penyerap karbon yang rendah.
2.2.3
Variasi matahari
Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir
Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari
Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat
memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini
dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari
akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan
stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati
sejak tahun 1960, yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi
kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat
memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai
akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas
gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri
hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa
kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan
dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah
berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama
periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan
rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat
estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan
pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu
vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian,
mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim
terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi
pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.
Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan
bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat "keterangan"
dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi
peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat "keterangannya" selama
30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan
global. Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada
hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik
melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.
2.2.4
Peternakan ( Konsumsi Daging )
Menurut Laporan Perserikatan Bangsa Bangsa tentang
peternakan dan lingkungan yang diterbitkan pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa,
"industri peternakan adalah penghasil emisi gas rumah kaca yang terbesar
(18%), jumlah ini lebih banyak dari gabungan emisi gas rumah kaca seluruh
transportasi di seluruh dunia (13%). " Hampir seperlima (20 persen) dari
emisi karbon berasal dari peternakan. Jumlah ini melampaui jumlah emisi
gabungan yang berasal dari semua kendaraan di dunia!
Sektor peternakan telah menyumbang 9 persen karbon
dioksida, 37 persen gas metana (mempunyai efek pemanasan 72 kali lebih kuat
dari CO2 dalam jangka 20 tahun, dan 23 kali dalam jangka 100 tahun), serta 65
persen dinitrogen oksida (mempunyai efek pemanasan 296 kali lebih lebih kuat
dari CO2). Peternakan juga menimbulkan 64 persen amonia yang dihasilkan karena
campur tangan manusia sehingga mengakibatkan hujan asam.
Peternakan juga telah menjadi penyebab utama dari
kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari
permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan
untuk menanam makanan ternak.
Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari
Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu
dan Pilihan Lingkungan (Livestock's Long Shadow-Environmental Issues and
Options), peternakan adalah "penggerak utama dari penebangan hutan ....
kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi
ladang ternak.
Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu
tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan
ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab
atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri,
trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap
tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan
untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.
2.3 Gejala Pemanasan Global
Kebakaran hutan besar-besaran
Bukan hanya di Indonesia, sejumlah hutan di Amerika
Serikat juga ikut terbakar ludes. Dalam beberapa dekade ini, kebakaran hutan
meluluhlantakan lebih banyak area dalam tempo yang lebih lama juga. Ilmuwan
mengaitkan kebakaran yang merajalela ini dengan temperatur yang kian panas dan
salju yang meleleh lebih cepat. Musim semi datang lebih awal sehingga salju
meleleh lebih awal juga. Area hutan lebih kering dari biasanya dan lebih mudah
terbakar.
Situs purbakala cepat rusak
Akibat alam yang tak bersahabat, sejumlah kuil, situs
bersejarah, candi dan artefak lain lebih cepat rusak dibandingkan beberapa
waktu silam. banjir, suhu yang ekstrim dan pasang laut menyebabkan itu semua.
Situs bersejarah berusia 600 tahun di Thailand, Sukhotai, sudah rusak akibat
banjir besar belum lama ini
Ketinggian gunung berkurang
Tanpa disadari banyak orang, pegunungan Alpen
mengalami penyusutan ketinggian. Ini diakibatkan melelehnya es di puncaknya.
Selama ratusan tahun, bobot lapisan es telah mendorong permukaan bumi akibat
tekanannya. Saat lapisan es meleleh, bobot ini terangkat dan permukaan perlahan
terangkat kembali.
Satelit bergerak lebih cepat
Emisi karbon dioksida membuat planet lebih cepat
panas, bahkan berimbas ke ruang angkasa. Udara di bagian terluat atmosfer
sangat tipis, tapi dengan jumah karbondioksida yang bertambah, maka molekul di
atmosfer bagian atas menyatu lebih lambat dan cenderung memancarkan energi, dan
mendinginkan udara sekitarnya. Makin banyak karbondioksida di atas sana, maka
atmosfer menciptakan lebih banyak dorongan, dan satelit bergerak lebih cepat.
Hanya yang Terkuat yang Bertahan
Akibat musim yang kian tak menentu, maka hanya mahluk
hidup yang kuatlah yang bisa bertahan hidup. Misalnya, tanaman berbunga lebih
cepat tahun ini, maka migrasi sejumlah hewan lebih cepat terjadi. Mereka yang
bergerak lambat akan kehilangan makanan, sementar mereka yang lebih tangkas,
bisa bertahan hidup. Hal serupa berlaku bagi semua mahluk hidup termasuk
manusia.
Pelelehan Besar-besaran
Bukan hanya temperatur planet yang memicu pelelehan
gununges, tapi juga semua lapisan tanah yang selama ini membeku. Pelelehan ini
memicu dasar tanah mengkerut tak menentu sehingga menimbulkan lubang-lubang dan
merusak struktur seperti jalur kereta api, jalan raya, dan rumah-rumah. Imbas
dari ketidakstabilan ini pada dataran tinggi seperti
pegunungan bahkan bisa menyebabkan keruntuhan batu.Keganjilan di Daerah Kutub. Hilangnya 125
danau di Kutub Utara beberapa dekade silam memunculkan ide bahwa pemanasan
global terjadi lebih “heboh” di daerah kutub. Riset di sekitar sumber airyang
hilang tersebut memperlihatkan kemungkinan mencairnya bagian beku dasar bumi.
Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara
Saat pelelehan Kutub Utara memicu problem pada tanaman
danhewan di dataran yang lebih rendah, tercipta pula situasi yang sama dengan
saatmatahari terbenam pada biota Kutub Utara. Tanaman di situ yang dulu
terperangkap dalam es kini tidak lagi dan mulai tumbuh. Ilmuwan menemukan
terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar
dibanding dengan tanah di era purba.
Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi
Sejak awal dekade 1900-an, manusia harus mendaki
lebihtinggi demi menemukan tupai, berang-berang atau tikus hutan. Ilmuwan
menemukan bahwa hewan-hewan ini telah pindah ke dataran lebih tinggi akibat
pemanasan global. Perpindahan habitat ini mengancam habitat beruang kutub juga,
sebab es tempat dimana mereka tinggal juga mencair.
Peningkatan Kasus Alergi
Sering
mengalami serangan bersin-bersin dan gatal di matasaat musim semi, maka
salahkanlah pemanasan global. Beberapa dekade terakhir kasus alergi dan asma di
kalangan orang Amerika alami peningkatan. Pola hidupdan polusi dianggap
pemicunya. Studi para ilmuwan memperlihatkan bahwa tingginya level
karbondioksida dan temperatur belakangan inilah pemicunya. Kondisi tersebut
juga membuat tanaman mekar lebih awal
dan memproduksi lebih banyak serbuk sari.
2.4 Mengukur Pemanasan Global
Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar
bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan
temperatur rata-rata global. Hipotesis ini
dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program
penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel
atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai.
Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan
konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer
terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang
terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.
Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin
menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat.
Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke
lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh
data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas.
Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini,
akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya.
Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan
sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan
oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan
dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya
(terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini
memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan
planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa
kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat
pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus
tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi
setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.
Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate
Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah
meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju
bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktivitas manusia yang
menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan
temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga
11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.
IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun
konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap
terus menghangat selama periode
tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan
sebelumnya. karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun
atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. [22]
Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli
memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga
tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era
industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun
sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang
sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang
sangat besar.
2.5 Dampak Pemanasan Global
Para ilmuan menggunakan model komputer dari
temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari
pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat
beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi
permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan
hewan liar dan kesehatan manusia.
2.5.1
Iklim Mulai Tidak Stabil
Akibat iklim yang tidak
stabil, terjadi kekeringan di muka bumi.
Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian
Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih
dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan
daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara
tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak
akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang
ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam
akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari
akan cenderung untuk meningkat.
Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih
banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah
akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini
disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga
keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer.
Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih
banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di
mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban
yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen
untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah
meningkat sebesar 1
persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi
lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya
beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup
lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane)
yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar.
Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin
mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
2.5.2 Peningkatan
Permukaan Laut
Perubahan tinggi rata-rata
muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi .Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan
juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi
permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama
sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi
muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama
abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm
(4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi
kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6
persen daerah Belanda, 17,5 persen
daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing,
pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara
sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya
akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya,
sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari
daerah pantai.
Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat
mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan
separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa
baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah
dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di
lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak
dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari
gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju)
musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum
puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami
serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
2.5.3
Suhu Global Cenderung Meningkat
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan
menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya
tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai
contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih
2.5.4
Gangguan Ekologis
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit
menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai
manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub
atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari
daerah baru karena habitat lamanya
menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi
perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang
terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.
Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub
mungkin juga akan musnah.
2.5.5
Implikasi Terhadap Kesehatan
Perubahan iklim akibat pemanasan global dapat
menyebabkan gangguan terhadap kesehatan manusia. Misalnya, dapat
meluasnya penyebaran penyakit malaria, demam berdarah, diare, kolera,
encephalitis, dan penyakit akibat vector lainnya. Mengingat musim hujan yang
tidak normal dengan berkepanjangan dapat memperluas areal area genangan air dan
menjadi tempat ideal bagi perkembangan nyamuk – nyamuk penyebab penyakit –
penyakit terkait banjir. Sebaliknya, musim kemarau panjang dan kekeringan
dapat menyebabkan menipisnya persediaan air bersih dan memudahkan penularan
diare, kolera, dan penyakit – penyakit saluran cerna lainnya.
Berbagai penyakit itu tidak hanya dapat terjadi di
Negara – Negara berkembang, tetapi penyakit – penyakit tersebut juga dapat
terjadi di negara – negara yang telah maju. namun, ironisnya negara
berkembang yang lebih sedikit kontribusinya dalam pemanasan global justru
paling rentan terjangkit penyakit.
2.5.6
Dampak Sosial dan Politik
Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan
munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat
menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan
cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut
akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian
akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan
penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma
psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada
penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun
penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne
diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk
nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa
spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi
lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adala organisme tersebut.
Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah
akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perbuhan ekosistem yang ekstreem ini.
hal ini juga akan berdampak perubahan iklim (Climat change)yang bis berdampak
kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang /
kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)
Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran
limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne
disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang
tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit
saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit
jantung dan paru kronis, dan lain-lain.
2.6 Perdebatan Tentang Pemanasan Global
Tidak semua ilmuwan setuju tentang keadaan dan akibat
dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah temperatur
benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi
tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang
keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti
yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen
bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan
fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa
daerah.
Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global
cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi
model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim.
Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad
ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an.
Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh
dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan
atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung
adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.
Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan
oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer.
Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan
sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan
akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap
polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.
Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata
tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas secara besar oleh
lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup
data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S. National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang
temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun
terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan
pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat
Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun
terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.[29]
Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit
mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model.
Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan
pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari
2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk
membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat
diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari
prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.
2.7 Pengendalian Pemanasan Global
Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia
meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang
sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di
masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul
sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di
masa depan.
Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai
cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk
mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di
pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti
Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga
koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan
ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang
koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.
Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin
bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke
atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain.
Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua,
mengurangi produksi gas rumah kaca.
2.7.1
Menghilangkan Karbon
Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon
dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak
lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon
dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan
karbon dalam kayunya. Di seluruh
dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai
level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit
sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang
lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah
untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam
mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara
langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke
sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga
bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur
minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah
satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana
karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan
diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke
permukaan.
Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah
pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat
pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber
energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada
pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di
dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini
sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang
dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila
dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun
demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih
mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun
kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan
tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
2.7.2
Efisiensi Penggunaan Energi
Untuk mengurangi efek rumah kaca perlunya pula
efisiensi dalam penggunaan energy BBF. Misalnya untuk efisiensi
penggunaan energy dan penggunaan emisi CO2, antara lain perlunya pengembangan
transport umum yang menarik bagi masyarakat, seperti bis yang bersih, aman,
nyaman, dan tepat waktu dengan terminal khusus yang mempunyai tempat parker
yang luas dan tidak menganggu keramaian lalu lintas.
Selain itu, transportasi umum lainnya yang
perludigalakkan pula adalah kereta api yang bersih, aman, nyaman, dan tepat
waktu. Karena kereta api dapat membawa penumpang lebih banyak dan mempunyai
daya tarik bagi masyarakat dan para wisata. Di samping itu, kereta api
dapat mengurangi kemacetan, penghematan bahan bakar, mengurangi buangan emisi
ke udara dan mengurangi gangguan kesehatan akibat pencemaran udara.
2.7.3
Persetujuan Internasional
Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan
pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara
berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk
menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997
di Jepang, 160 negara
merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.
Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan,
menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling
besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke
tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai
paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan
diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan
emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang
menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6
persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta
untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan
bahwa perjanjian untuk pengurangan karbon dioksida tersebut menelan biaya yang
sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara
berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbon dioksida ini.
Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang
bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun
1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun
2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi
perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.
Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah.
Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit
mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu
tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara
berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari
emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang
sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama
dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan
lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini
mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto
dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi.
Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya
sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan
dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan
proses industri yang lebih effisien.
Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang
ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah
dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit
dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara
industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi
berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi
produksi karbon dioksida.
Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan
Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum
terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada
setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator
merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang
sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak
digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi
hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat
diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang
memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi
Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Pemanasan global (global warming) pada
dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun
karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan
oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4),
dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam
atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global –
termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad
21.
3.1.2 Gejala – gejala terjadinya pemanasan global adalah:
·
Kebakaran hutan besar-besaran
·
Situs purbakala cepat rusak
·
Ketinggian gunung berkurang
·
Satelit bergerak lebih cepat
·
Hanya yang Terkuat yang Bertahan
·
Pelelehan Besar-besaran
·
Keganjilan di Daerah Kutub
·
Mekarnya Tumbuhan di Kutub Utara
·
Habitat Makhluk Hidup Pindah ke Dataran Lebih Tinggi
·
Peningkatan Kasus Alergi
3.1.3 Dampak yang ditimbukan oleh pemanasan global adalah:
·
Iklim Mulai Tidak Stabil
·
Peningkatan Permukaan Laut
·
Suhu Global Cenderung Meningkat
·
Gangguan Ekologis
·
Implikasi Terhadap Kesehatan
·
Dampak Sosial dan Politik
3.1.4 Cara pengendalian pemanasan global adalah:
·
Persetujuan Internasional
·
Efisiensi Penggunaan Energi
·
Menghilangkan Karbon
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dari hasil temuan di atas,
maka penulis mengajukan saran sebagai berikut :
·
Kita sebaiknya
memahami gejala – gejala terjadinya pemanasan global dan berusaha mengurangi
penyebab pemanasan global tersebut.
·
Setelah
mengetahui dampak – dampak yang timbul akibat terjadinya pemanasan global,
sebaiknya kita dapat mencegah dan mengendalikan terjadinya pemanasn global di
muka bumi ini.